Selasa, 25 November 2008

sejarah undergrund indonesia


Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang

masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya

benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu

dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan

Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah

diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka

mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat

itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian.

Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara

kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan. Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul

mengekspresikan berbagai macam karya 'avant garde' mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art,

hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang

dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi

semacam 'basic' bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah 'underground' untuk pertama kalinya

muncul.

'Underground' Era Revolusi Industri

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi

teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di

Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah

sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi

'working class'. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar

pentas-pentas musik di subway serta melakukan 'squat' atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para

imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan.

Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath.

Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu.

Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada



2

juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya 'punk' dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan

politisnya.

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris '68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari 'middle class' atau kaum

intelektual melebur bersama para kaum 'underground' dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi

industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat barikade

di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total

di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris '68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial

sepanjang masa, Sex Pistols.

'Underground' Era Flower Generation

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan.



Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan

agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat 'white supremacy'. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual

dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola

berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu

mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala

bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan

cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah 'ghetto' dan sengaja dibuat miskin secara

sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan

musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam

mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena

pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka

membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil

meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan

dengan cepat, bergumam dan menggunakan 'bahasa kode' yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat

itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman 'motown records' yang

khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua

Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang

lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi 'black panther'. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu

kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang

menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah

rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada

jaman Elvis disebut sebagai 'musik pemuja setan'. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan

membangkang pada orangtua.



4

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa

kalangan seniman 'underground', kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta

menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran.

Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang

sama, 'make peace not war'. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum 'flower generation' yang sudah bosan dengan segala

kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak

berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream.

Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang 'dijual' dan

sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap 'underground' lagi. Beberapa pelaku sub-kultur

akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur 'underground' serta mengembangkan sistem mereka

sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan

alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai

macam media independen adalah salah satu contohnya.

'Underground' Era Orla

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan

politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang

dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme

budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap 'menyesatkan' dan 'kebarat-baratan' serta dilarang dikonsumsi oleh

anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari

'barat' pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme.

Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock

& roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan

setelan 'barat' pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik

'ngak-ngik-ngok' pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara

sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari

sinilah awal lahirnya istilah 'underground' di Indonesia.

Tidak ada komentar: